Jembatan Abdi Negara

ditulis oleh: Aichiro Suryo Prabowo, Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia

 

“Everybody wants to save the earth; nobody wants to help Mom do the dishes.” Pertama kali baca kutipan O’Rourke tersebut, saya geli sekaligus khawatir sendiri. Geli karena tergelitik membayangkan para anak yang malas mencuci piring di rumah. Khawatir karena tersadarkan, kalau benar yang demikian memang terjadi dimana-mana, menyelamatkan dunia bisa jadi tinggal wacana.

Mahasiswa Indonesia kerap punya cita-cita yang begitu besarnya, membenahi negara atau mengubah dunia. Namun sayang, masih banyak yang lebih memilih untuk memulainya nanti saja setelah lulus dan mapan ketimbang ”mencicilnya” dari sekarang, dari hal-hal yang kecil. ”Great things are not done by impulse, but by a series of small things brought together,” begitu kata Van Gogh. Artinya, tidak perlu sebenarnya menunggu besar dulu baru membawa perubahan. Saat ini pun semua bisa dimulai walau sedikit demi sedikit.

Pengabdian Sebagai Jalan
Di kampus saya, Fakultas Ekonomi, beberapa teman gemar melakukan diskusi terkait isu ekonomi terkini, mulai dari masalah transparansi kampus, subsidi BBM, denominasi rupiah, hingga struktur APBN. Hasil kajian tersebut kemudian dipublikasikan via blog atau mading fakultas. Setelah membacanya, orang lain yang tadinya tidak tahu jadi lebih paham duduk permasalahan yang ada.

Menurut saya, begitu seharusnya mahasiswa mewujudkan pengabdiannya, relevan dengan ilmu yang dimiliki, mudah dilakukan, dan berdampak positif bagi lingkungan sekitar. Mahasiswa teknik mungkin membangun kincir angin sederhana sebagai pembangkit listrik di sebuah desa, mahasiswa psikologi bisa jadi menyelenggarakan pendidikan anak usia dini, apapun itu yang penting ambil bagian! Bagi yang punya daya lebih, tentu gerakan lebih besar tidak mustahil diwujudkan, seperti advokasi kebijakan publik, kuliah kerja nyata, atau desa binaan sebagaimana telah berjalan di beberapa kampus di nusantara.

Pengabdian masyarakat adalah jembatan antara idealisme di dalam dengan realisme di luar kelas, sekaligus merupakan jalan untuk mahasiswa menebarkan manfaatnya. Maka, tak seharusnya hal ini cuma jadi sekadar pelengkap. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi pun dijelaskan bagaimana pilar pengabdian masyarakat berdiri sama tinggi dengan dua pilar lainnya, yaitu pendidikan dan penelitian. Tidak boleh ada yang dinomorduakan. Ibarat bangunan, pilar-pilarnya harus sama kuat agar tidak berisiko ambruk. Pula sebaliknya, kerja sosial juga jangan sampai mengorbankan belajar. Pengabdian masyarakat, saya percaya, adalah jalan bagi mahasiswa untuk mewujudkan cita-citanya membenahi negara dan mengubah dunia. Let’s think big, start small, act now!

Bersaing vs Bekerja Sama
Di Indonesia, kesempatan untuk menjadi mahasiswa merupakan sebuah kemewahan. Tidak semua orang bisa mendapatkannya, sehingga wajib bagi mereka yang telah sukses memperoleh kesempatan ini untuk “membayarnya” kembali. Caranya, dengan memberikan manfaat yang lebih banyak lagi bagi masyarakat.

Saya ingat empat tahun lalu, saat itu saya masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Memang benar, perjuangan meraih kursi perguruan tinggi yang begitu berat menjadikan buah keberhasilannya pantas disebut sebagai barang mewah. Bagaimana tidak, setiap siswa harus bersaing dengan semua lulusan SMA se-Indonesia demi satu bangku kuliah. Alhamdulillah, cerita berakhir manis, saya diterima di kampus idaman.

Waktu berlalu cepat, tanpa terasa hari ini saya telah sampai di penghujung masa-masa kuliah. Bulan depan angkatan saya akan wisuda, untuk selanjutnya memasuki dunia kerja. Artinya, kompetisi akan digelar kembali. Lebih mendebarkan, mengingat kali ini persaingannya tidak hanya dengan lulusan dalam negeri tetapi juga melawan lulusan luar negeri.

Di satu sisi, saya waspada, namun di sisi lain, saya melihat budaya kompetisi ini sebagai sesuatu yang berlebihan. Sejak lulus SD, SMP, SMA, hingga kuliah, pemuda Indonesia didoktrin untuk selalu siap bersaing. Lulus SMA, siswa dipersiapkan untuk siap berkompetisi dengan lulusan SMA yang lain. Lulus kuliah, mahasiswa dipersiapkan untuk siap melawan sarjana lainnya. Siap bersaing saja tidak cukup. Menurut saya, dibutuhkan juga kesiapan untuk bekerja sama.

Kesiapan untuk bekerja sama ini harus ditanamkan sejak kecil. Sesederhana mengatakan, “Lulus SMA, kamu akan bekerja sama dengan lulusan-lulusan SMA lain di Indonesia,” atau, “Lulus kuliah, kamu akan bekerja sama dengan para sarjana dari penjuru dunia yang lain.” Spirit bekerja sama yang demikian akan memberikan kebesaran hati sekaligus kesiapan mental untuk menghasilkan karya yang lebih besar. Peradaban sudah berubah, manusia tidak ingin selamanya “berperang,” kan?

Mengabdi Bersama-sama
Pengabdian masyarakat dan bekerja sama, keduanya penting. Pengabdian masyarakat adalah jalan untuk menebar manfaat. Tanpanya, mahasiswa tidak akan dapat mengubah apa-apa. Bekerja sama adalah jalan untuk menjadi lebih kuat. Tanpanya, mahasiswa hanya akan terbatas pada karya-karya yang tersegmentasi saja. Kesadaran akan kedua hal tersebut, semangat pengabdian masyarakat dan spirit bekerja sama, lah yang akan menjadikan mahasiswa Indonesia siap berkiprah baik secara lokal maupun global.

Bagaimana dengan disiplin ilmu? Menurut saya, apapun bidangnya dan darimanapun asal fakultasnya tidak jadi soal. Tidak benar dokter lebih mulia ketimbang arsitek. Tidak betul ekonom lebih baik daripada sastrawan. Semuanya penting bagi kehidupan. Bak jangka sorong, setepat apapun akurasinya, tetap tidak tepat jika dimanfaatkan untuk mengukur jalan raya. Semua punya tempatnya masing-masing. Maka sekali lagi, kolaborasi dalam mengabdi merupakan langkah paling efektif yang harus ditempuh. Banyak orang ingin membangun menara, namun tidak banyak yang berinisiatif untuk membangun jembatan antarmenara-menara itu. Jika prestasi gemilang adalah menaranya, maka mengabdi bersama-sama adalah jembatannya.

Mahasiswa Indonesia tidak boleh berhenti bercita-cita membenahi negara dan mengubah dunia, dan mewujudkannya bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana, saat ini juga! Saya percaya, dengan mengubah sebagian kecil dari dunia, seorang mahasiswa sejatinya telah mengubah dunia seutuhnya. Selamat berkarya sebagai abdi negara, selamat berkiprah sebagai warga dunia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s