Senyum Ikhlas..

Malam ini..

Dalam setiap dekap rindu yang membelenggu

(Kembali) ku mainkan tuts dua warna itu

Hitam.. dan putih

 

Sandiwarakah selama ini..

Setelah sekian lama kita t’lah bersama..

Inikah akhir cerita cinta..

yang selalu aku banggakan.. 

di depan mereka..

 

Langit..

Engkau indah

Berikan naungan saat gundah

Ajarkan insan manusia untuk merendah

 

Bulan..

Malam ini.. nampak indah auramu

Berikan bayang-bayang semu

bagi tiap mata yang menatapmu

untuk setiap hati yang merindumu

 

Aku..

Lelaki yang membisu

dalam biru yang kelabu

lima tahun yang lalu..

.

.

Y: “Sekian lama engkau telah menghilang sejak saat itu. Bagaimana kabarmu?”

X: “Aku baik. Kamu?”

Y: “Sehat, begitu pun dengan dia. Berkat doamu juga waktu itu”

X: “Matanya mirip denganmu”

Y: “Iya.. kau benar. Tapi, aku juga ingin sekali dia punya senyum ikhlas milikmu itu”

X: “Lihatlah senyumnya, dia jauh lebih ikhlas dariku”

Y: “Tidak, itu karena senyummu yang kurang ikhlas hari ini”

X: “Mungkin karena aku terlalu lelah akhir-akhir ini”

Y: “Lelah kenapa? Apa yang engkau pikirkan? Aku sangat mengenalmu. Ceritakan kepadaku..”

X: “…Ah, tidak. Bukan apa apa. Tak usah kau risaukan. Lupakan..”

Y: “Oh iya, engkau dapat salam dari suamiku. Dia berutang budi banyak terhadapmu”

X: “…*(mencoba) tersenyum ikhlas…”

Y: “Aku… juga ingin berterima kasih. Sungguh, engkau lelaki yang telah sangat baik kepadaku…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s