Jatuh, Bangkit, dan Rindu..

“Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi. Yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit.”

(Ridwansyah Yusuf)

Malam ini, mimpi besar itu kembali memanggilku. Sebuah mimpi, melanjutkan studi di luar negeri. London, Paris, Amsterdam seakan selalu bergantian berteriak lantang tiap malam,

“Hei!! Kamu!! Menteri Luar Negeri RI 2030!!!  Cepat selesaikan skripsimu dan cepat datanglah kemari !!! Engkau sibuk? Jangan alasan!! Seorang Menteri Luar Negeri yang hebat tidak pernah mengeluh dan cari-cari alasan!! Kurangi saja waktu tidurmu!! Santainya, nanti saja di Surga !!!”

.

Tsubasa di Spanyol..

Hyuga di Italia..

Wakabayashi di Jerman..

Misaki di Perancis..

Ketiga pemain hebat yang berasal dari Jepang ini, kemudian kembali ke negaranya untuk mewujudkan mimpi besar mereka, membawa Tim Nasional Jepang menjadi Juara Piala Dunia.

.

Iya, story dalam film kartun inilah yang selalu menginspirasiku tiap malam. Aku merindukan sosok Ahmad Adi Pranata di tahun 2009. Sosok yang saat itu berjuang sangat keras mewujudkan mimpinya untuk dapat diterima dan kuliah di Universitas Indonesia. Sosok yang saat itu rela meninggalkan semua comfort zone yang dia miliki..

  • Kabur sementara dari rumah, menyewa sebuah kamar kos yang sangat sangat sederhana di dekat FK Universitas Airlangga
  • Bersahabat sangat dekat dengan motor yang benar-benar sangat dia rindukan hingga saat ini. Dengan segala kerendahan hati, jujur, aku sangat rindu berpetualang bersamanya. Kawasaki Kaze tahun 1995 dengan kondisi lem kertas yang menghiasi lampu depan serta speedometer, double starter, dan fuel indicator yang tidak menyala
  • Makan dengan budget 5000 rupiah per hari (dua bungkus nasi putih dengan lauk tahu, tempe, dan sambal, lalu dibagi menjadi tiga bagian, untuk makan pagi, siang, dan malam) .. Bagaimana jika masih lapar? Izin ke dapur Ibu Kos untuk memasak air sebanyak satu panci tiap hari. Iya, minum sebanyak banyaknya
  • Shalat berjamaah lima waktu dan tepat waktu di sebuah Pos Siskamling kecil dekat kosan yang diberi pengeras suara sederhana, beberapa sajadah, dan sekitar 5 – 10 Al Quran di dalamnya
  • Bahkan, sampai berhutang untuk membeli formulir SIMAK UI ke seorang sahabat yang merupakan anak Walikota Surabaya saat itu

.

Dengan segala kerendahan hati, jujur, aku sangat merindukan masa itu..

saat dimana aku merasakan ratusan keterbatasan namun entah mangapa bisa sangat tenang dalam menjalaninya..

Dengan segala kerendahan hati, jujur, aku sangat merindukan masa itu..

saat diacuhkan oleh sebuah warung pinggir jalan ketika hendak membeli makan malam lauk ikan laut seharga 25000 karena dianggap pengemis. (saat itu aku memakai kaos yang tanpa kusadari sudah sangat lusuh dan robek di beberapa bagian)

Dengan segala kerendahan hati, jujur, aku sangat merindukan masa itu..

saat berpamitan kepada Ibu Kos dan warga sekitar untuk pergi, berangkat kuliah ke UI

Dengan segala kerendahan hati, jujur, aku sangat merindukan masa itu..

saat duduk bersama dengan mereka di Pos Siskamling yang merangkap Mushalla kecil nan nyaman itu..

Dengan segala kerendahan hati, jujur, aku sangat merindukan masa itu..

saat dimana aku.. merasa sangat sangat dekat dengan-Mu..

.

“Mengapa Tuhan membuat kita terJATUH? .. karena Tuhan ingin, agar kita BELAJAR untuk BANGKIT.”

(Adi Pranata, 2009)

.

Bismillah..

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia 2030, Ahmad Adi Pranata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s