Bidadari Dunia Sayap Surga

SENYUM

Di bawah rongga langit malam Jakarta, hatinya serasa menyeruak keluar. Ingin sekali kepal tangannya mendarat di sebuah landasan pacu pelampiasan murka. Lava pijar amarah bergemuruh. Eruptif. Eksplosif!

Selayang telapak tangan lembut mendarat di dada kirinya.
Serentak, denyut eruptif padam tak menyala, detak eksplosif lenyap tak bernyali.
“Tak Usah. Jangan.”, ujarnya berhias kurva indah beribu makna di antara kedua pipinya.

“I have a lot of problem in my life. But my lips dont know about that. The always SMILE 🙂 ” – Charlie Chaplin

LIHAT

Namanya Pak Slamet. Siang hari selalu lewat depan rumah. Mengayuh sepeda kuno sambil menjajakan nangka yang tak enak dilihat. Ia heran mengapa Ibu selalu membeli semua nangka itu dan langsung menyuruh Pak Slamet pulang. Siang itu ia mendekati Ibunya yang berjalan ke arah Pak Slamet,

“Saya beli semuanya ya Pak Slamet.”
“Matur nuwun Bu.”
“Sama-sama Pak. Bapak langsung pulang ya. Kasihan Bu Slamet sendiri di rumah.”
“Inggih Bu. Oh iya, ini uang Ibu berapa ya? Dan saya harus kasih kembalian berapa ya Bu?”
“Tak usah Pak. Ambil saja.”

“Ibu, kenapa setiap hari Ibu membeli semua nangka dan menyuruh Pak Slamet langsung pulang?”

“Belajarlah melihat. Beliau kurang memahami aksara dan angka. Istrinya sebentar lagi melahirkan. Kamu baru tahu kan? Padahal hampir tiap hari beliau lewat depan rumah. Nah, mulai sekarang, kamu harus pandai melihat. Melihat yang tak mudah dilihat.”

DENGAR

Sedari dulu, ia lelaki yang sangat suka mendengar. Sesi curhat di radio tiap malam jadi saksinya. Daun telinganya sangat sensitif. Apalagi jika ada untaian aksara tak bernada tentang Ibu masuk memukul gendang telinganya.

“Kenapa aku tak boleh mencintainya?”
“Belum waktunya”
“Kenapa belum waktunya?”
“Kau belum pandai mendengarkan.”
“Apa yang harus aku lakukan supaya pandai mendengarkan?”
“Cintai radio ini tiap menjelang malam. Jangan tidur sebelum mendengarkan keluh kesahnya.”

Mendengar itu belajar. Belajar sabar, belajar menghargai manusia, dan belajar membantu menyelesaikan masalahnya

Hingga tulisan ini dibuat pun, dirinya masih suka mendengarkan radio pemberian Ibunya itu. Lagu ini adalah lagu favoritnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s