Lembayung Senja Syahdu Surabaya..

Ranumnya gerimis tebarkan tabir lembut pengobat rindu. Ranting akasia saling bersahutan. Bak lantunan megah orkestra yang menjawab sapaan angin.

Sang perwira merah berdiri tegap. Seraya punggung kanan pikul tas punggung yang jadi ciri khas nya.

Bidadari dunia rasa surga turun dari langit. Gerimis air hujan bercampur untaian tirta permata kornea retina miliknya..

X: “Kau cepat sekali Nak. Tinggallah beberapa hari lagi”
(Sambil letakkan telapak tangan surga di dada kiri perwira merah yang lama tak dilihatnya.)
Z: “Tidak Bu. Aku harus pergi. Tak usah risau. Masih ingat janjiku padamu di malam Ramadhan saat itu?”
X: “Kau ini memang anaknya. Kalian sama-sama keras kepala.”
Z: “Dulu, saat aku masih kecil, dia yang mengalah. Sekarang, giliranku Bu. Aku harus pergi. Tengah tahun nanti, aku pasti kembali. Pasti. Dengan membawa surat dari New York atau London itu. Doakan aku Bu.”
X: “Punggungmu tak berubah Nak. Sama seperti saat kau pertama kali memutuskan pergi kala itu. Tegap. Tak mudah goyah. Kembalilah ke sini kapan pun ya Nak. Ketika utara selatan barat dan timur sudah tak lagi bersahabat denganmu, kembalilah ke sini kapan pun.”
Z: “Baik Bu. Aku pergi”(Sambil melukis kurva indah beribu makna di wajahnya)
X: “Jadi saat ini kau sedang dekat dengan siapa? Sudah hampir lima tahun Ibu tak lagi melihat perwira merah dengan seribu sifat syahdunya itu bersenandung mesra.”
Z: “Ah, Ibu merusak suasana haru cerita yang Aku tulis.”
X: “Jadi. Siapa? Yang namanya akan ada untai aksara Zain Pranata Putri?”
Z: “Belum Bu. Pasti ada waktunya. Paralel dengan surat dari New York dan London.”
X: “Anak lelaki yang dekat dengan Ibu nya, pasti dengan sangat mudah dapat akrab dengan wanita di sekitarnya. Percayalah. Ibu tak bohong.”

Bidadari dunia rasa surga selalu punya cara untuk membuat arteri, vena, dan alveolus dalam dada berkontraksi maksimal. Perwira merah selalu percaya semua pesan darinya.

“Anak lelaki yang dekat dengan Ibu nya, pasti dengan sangat mudah dapat akrab dengan wanita di sekitarnya. Percayalah. Ibu tak bohong.”

Begitu pula sebaliknya Bu,

“Sosok wanita yang sangat dekat dengan anak laki-laki nya, pasti dengan sangat mudah dapat disukai oleh lelaki baik di sekitarnya. Percayalah. Aku tak bohong.”

X: “Ibu, aku berangkat. Goa Plato sudah memanggilku masuk. Akan ku buat Tuhan jatuh cinta padaku. Doakan dan tunggu aku keluar ya Bu. Assalamualaikum, Ibu..”

 

Advertisements

Bidadari Dunia Sayap Surga

SENYUM

Di bawah rongga langit malam Jakarta, hatinya serasa menyeruak keluar. Ingin sekali kepal tangannya mendarat di sebuah landasan pacu pelampiasan murka. Lava pijar amarah bergemuruh. Eruptif. Eksplosif!

Selayang telapak tangan lembut mendarat di dada kirinya.
Serentak, denyut eruptif padam tak menyala, detak eksplosif lenyap tak bernyali.
“Tak Usah. Jangan.”, ujarnya berhias kurva indah beribu makna di antara kedua pipinya.

“I have a lot of problem in my life. But my lips dont know about that. The always SMILE 🙂 ” – Charlie Chaplin

LIHAT

Namanya Pak Slamet. Siang hari selalu lewat depan rumah. Mengayuh sepeda kuno sambil menjajakan nangka yang tak enak dilihat. Ia heran mengapa Ibu selalu membeli semua nangka itu dan langsung menyuruh Pak Slamet pulang. Siang itu ia mendekati Ibunya yang berjalan ke arah Pak Slamet,

“Saya beli semuanya ya Pak Slamet.”
“Matur nuwun Bu.”
“Sama-sama Pak. Bapak langsung pulang ya. Kasihan Bu Slamet sendiri di rumah.”
“Inggih Bu. Oh iya, ini uang Ibu berapa ya? Dan saya harus kasih kembalian berapa ya Bu?”
“Tak usah Pak. Ambil saja.”

“Ibu, kenapa setiap hari Ibu membeli semua nangka dan menyuruh Pak Slamet langsung pulang?”

“Belajarlah melihat. Beliau kurang memahami aksara dan angka. Istrinya sebentar lagi melahirkan. Kamu baru tahu kan? Padahal hampir tiap hari beliau lewat depan rumah. Nah, mulai sekarang, kamu harus pandai melihat. Melihat yang tak mudah dilihat.”

DENGAR

Sedari dulu, ia lelaki yang sangat suka mendengar. Sesi curhat di radio tiap malam jadi saksinya. Daun telinganya sangat sensitif. Apalagi jika ada untaian aksara tak bernada tentang Ibu masuk memukul gendang telinganya.

“Kenapa aku tak boleh mencintainya?”
“Belum waktunya”
“Kenapa belum waktunya?”
“Kau belum pandai mendengarkan.”
“Apa yang harus aku lakukan supaya pandai mendengarkan?”
“Cintai radio ini tiap menjelang malam. Jangan tidur sebelum mendengarkan keluh kesahnya.”

Mendengar itu belajar. Belajar sabar, belajar menghargai manusia, dan belajar membantu menyelesaikan masalahnya

Hingga tulisan ini dibuat pun, dirinya masih suka mendengarkan radio pemberian Ibunya itu. Lagu ini adalah lagu favoritnya.

Buku untuk Ibuku..

 

Ibu,

tak usah engkau cemaskan putra sulungmu ini

Putra sulungmu yang sangat senang berpetualang dan jarang pulang menemuimu

Ibu,

Ingatkah Ibu, ketika aku masih kelas 3 SMP..

ketika kita berdua menonton film kartun Hunter X Hunter di kamarku,

kamar yang sangat membuatku rindu

kamar yang engkau beri label sebagai kamar tidur cowok paling rapih dan simetris se-dunia

Iya, karena sifat putramu ini yang sangat pay attention to detail ketika benda-benda di kamarnya bergeser 1 cm saja. Hahaha…

Ibu,

Ingatkah Ibu, ketika putramu ini sempat berujar kata di depan eloknya paras dan hatimu,

“Ma, besok, kalau nanti aku udah besar, aku ingin jadi Hunter ya Ma. Adventure seperti si Killua ama Gon. Supaya jadi orang hebat seperti mereka Ma..”

.

.

The World is a Book, and those who do not TRAVEL, read only one page of the book..

Ibu,

dengan segala kerendahan hati, maafkan putramu ini..

Putramu yang gagal memenuhi mimpinya untuk mengenakan jas warna putih itu

Ibu,

dengan segala kerendahan hati, sekali lagi, maafkan putramu ini..

Putramu yang mungkin akan terlambat mengumpulkan buku edisi 1 hasil karyanya sejak 2009

Ibu,

tunggu aku menyelesaikan halaman demi halaman buku yang kelak akan engkau baca ini. Sebuah buku, yang nantinya akan engkau taruh di rak buku kesayanganmu, di samping Al-Quran dan buku-buku kajian Islam yang selalu engkau peluk tengah malam

.

.

.

“Ketika di komunitas yang isinya adalah para Ibu yang sangat mencintai anaknya, yang dinilai paling tinggi bukanlah kuda putih atau kereta emas yang ditungganginya, bukan pula kilauan logam mulia berharga yang tersemat di tubuhnya, bukan juga tambahan huruf atau frase bernilai prestisius yang tergores dalam kartu namanya,

tapi…

Indahnya cerita dan banyaknya halaman yang engkau tulis di bukumu kelak. Buku yang akan Ibu hafal selamanya, huruf demi huruf, kata, kalimat, bahkan tanda baca yang engkau lukis. Buku yang akan jadi bacaan favorit Ibu tiap tengah malam.” – Ibuku