The Difference Between Being In Love And Being In Love With Love

The Difference Between Being In Love And Being In Love With Love

Thought Catalog

It’s a scary thought, isn’t it? When that little voice creeps up in your head and makes you question whether you really want your significant other or you just want love. You’ll dismiss it the first few times. No, no, I obviously care about them. But do you? How do you even know the difference? More importantly, is it such a crime? You want somebody to love, so why not? That’s usually what comes next: well, it’s not really serious. We’re casual. It’s okay because we’re not serious. It’s okay, right? 

When you are in love with love, you are in the relationship for its benefits, and you cower away from more difficult aspects. By cower, I mean, you don’t address them or you don’t go about dealing with things in a healthy, respectful way. Frankly, you don’t care as much about the person as you do what they can…

View original post 377 more words

Advertisements

Pangeran dan Ibu Bidadari

Sudah lama sekali Sang Pangeran Berkuda Putih tidak merasakan hangatnya suasana ini..

Berbincang empat mata dengan sosok Ibu Bidadari yang telah beranjak senja, namun masih memancarkan aura bintang galaksi Andromeda..

 

“Nak, umur kamu sudah 22 tahun sekarang. Mungkin, kamu sudah saatnya”

“Doakan aku ya Ibu..”

“Jadilah Laki-Laki, yang kelak ketika di Akhirat nanti, sosok Ibumu yang tua ini dan Istri yang engkau sayangi lah yang akan mendampingimu. Dan semua perempuan yang ada di sekitarmu memelukmu sambil mengucap:

TERIMA KASIH Adi, karena selama ini telah MENJAGAKU namun tetap MENGHARGAIKU, jauh melebihi Laki-Laki yang lain..

TERIMA KASIH juga untukmu Adi, dari SUAMIKU…”

.

.

Yang terbaik diantara kaum mu’minin itu ialah yang terbaik sifatnya terhadap kaum wanitanya – (HR.Tirmidzi)

Senyum Ikhlas..

Malam ini..

Dalam setiap dekap rindu yang membelenggu

(Kembali) ku mainkan tuts dua warna itu

Hitam.. dan putih

 

Sandiwarakah selama ini..

Setelah sekian lama kita t’lah bersama..

Inikah akhir cerita cinta..

yang selalu aku banggakan.. 

di depan mereka..

 

Langit..

Engkau indah

Berikan naungan saat gundah

Ajarkan insan manusia untuk merendah

 

Bulan..

Malam ini.. nampak indah auramu

Berikan bayang-bayang semu

bagi tiap mata yang menatapmu

untuk setiap hati yang merindumu

 

Aku..

Lelaki yang membisu

dalam biru yang kelabu

lima tahun yang lalu..

.

.

Y: “Sekian lama engkau telah menghilang sejak saat itu. Bagaimana kabarmu?”

X: “Aku baik. Kamu?”

Y: “Sehat, begitu pun dengan dia. Berkat doamu juga waktu itu”

X: “Matanya mirip denganmu”

Y: “Iya.. kau benar. Tapi, aku juga ingin sekali dia punya senyum ikhlas milikmu itu”

X: “Lihatlah senyumnya, dia jauh lebih ikhlas dariku”

Y: “Tidak, itu karena senyummu yang kurang ikhlas hari ini”

X: “Mungkin karena aku terlalu lelah akhir-akhir ini”

Y: “Lelah kenapa? Apa yang engkau pikirkan? Aku sangat mengenalmu. Ceritakan kepadaku..”

X: “…Ah, tidak. Bukan apa apa. Tak usah kau risaukan. Lupakan..”

Y: “Oh iya, engkau dapat salam dari suamiku. Dia berutang budi banyak terhadapmu”

X: “…*(mencoba) tersenyum ikhlas…”

Y: “Aku… juga ingin berterima kasih. Sungguh, engkau lelaki yang telah sangat baik kepadaku…”

Pacaran = Belajar ?

Pangeranku,

Pacaran saja! Dengan begitu, kamu bisa belajar bagaimana cara memperlakukan sang Putri..

Pangeranku,

Pacaran saja! Namanya juga saling belajar untuk saling kenal. Kalau tidak cocok, cukup ambil sebuah konklusi lima rangkaian huruf, PUTUS!

Pangeranku,

Pacaran saja! Denganku…

..

Begitu mudahkah untuk memaknai pacaran adalah sebuah proses belajar?

Tidak! Itu sama saja diriku menjadikan engkau layaknya “kelinci percobaan” dengan alasan bahwa kita sedang belajar

Begitu mudahkah untuk mengungkap kata PUTUS dengan alasan bahwa ternyata kita sudah tidak lagi satu rasa?

Tidak! Entah alasan apalagi yang harus aku ungkap padamu Putri..

..

Aku hanya tidak setuju ketika timbul sebuah premis bahwa “Pacaran = Belajar”

Pacaran, sebuah kata yang berhubungan erat dengan insan manusia pasangan kita tempat saling mengungkap cinta

Tegakah engkau menjadikan insan manusia yang engkau cintai itu sebagai sarana belajar?

.

.

Belajar dulu, baru Pacaran…

Lima Detik, Lima Langkah Kaki..

Dua senyum saling sapa

Berhadapan muka, sejajar berlawanan arah

Lima detik..

Lima langkah kaki..

 

Kilau mata ikhlas berkaca

Menambah syahdu Adam Hawa terjerat cinta

Lima detik..

Lima langkah kaki..

 

Gerai rambut tersentuh tangan bidadari

Menunduk seraya ingin memperkenalkan diri

Balas senyum sang lelaki

Rasa malu membuncah di tulang pipi

Lima detik..

Lima langkah kaki..

 

Andai senyum kita berbicara

Andai senyum kita berdua saling sapa

Mungkin,

akan lahir sebuah kata..

CINTA?

.

.

ku persembahkan untukmu, gadis berwarna aura light blue

ku menunggu tuk tahu namamu…

Kangen.. (Piano Version)

Bawalah daku bersama

Ke dalam setiap langkahmu

Di manapun kau berada

Rinduku semakin me-Raja

 

Izinkan jemari ini memainkannya kembali

Ketika hati ingin berucap kata, bercerita..

tapi entah harus kemana..

Lantunan nada-nada indah pengantar tidur

Memeluk mimpi pengantar masa lalu

 

(Sekali lagi) ku mainkan tuts dua warna itu

hitam dan putih

di tengah senyum ikhlas sang rembulan malam,

di hadapan nada romantis yang membuatnya runyam,

Aku… tertunduk,

 

Ada bayangmu dalam kesendirianku

Mungkinkah kau alami juga rasa ini

Mestinya kau ada di sini bersama diriku

Memadu kasih kita berdua slamanya

 

Bawalah daku bersama

Ke dalam setiap langkahmu

Di manapun kau berada

Rinduku semakin me-Raja


Kangen aku padamu…

Tiada akan dapat kuobati

Tanpa kunikmati

…Senyummu…

Senyum di wajahmu

 

Seribu langkah kaki yang menyertaimu

Senyum tulang pipi yang menyambutmu

Pundak tempat bersandar menghapus lukamu

Tiada artinya?

 

Tiada lagi dapat kubuat

*stop!

Untuk hilangkan rasa ini

Lagu ini tak akan membuat

Hasrat hati yang kumiliki

 

Mana seribu embun pagi berisi janji-janji itu?

Mana?

Kau lenyapkan mereka!

Rerumputan pagi yang kau injak tanpa rasa..

Terik matahari membakar luka..

 

Arrrggghhh…

Kutinggikan nada dasar

Seraya berteriak..!!!

 

Oo.. Bawalah daku bersama

Ke dalam setiap langkahmu

Di manapun kau berada

Rinduku semakin me-Raja

 

Kangen aku padamu…

Tiada akan dapat kuobati

Tanpa kunikmati

 

Argh! Sekali lagi!

Lirik penuh aksara pengungkap rasa..

 

Bawalah daku bersama

Ke dalam setiap langkahmu

Di manapun kau berada

Rinduku semakin me-Raja

 

Kangen aku..

pada..

kamu..

Tiada akan dapat kuobati…

Lagu Rindu..

Ku mainkan tuts dua warna

hitam dan putih

Puisi tak ber-aksara..

Syair tanpa nada..

Setia temani jemariku

yang bersenandung sebuah lagu rindu

Lagu rindu yang kau ungkapkan sejajar kornea mataku

 

Lagu rindu yang bercerita tentang pagi..

yang dipenuhi ribuan embun janji-janji

 

Lagu rindu yang bercerita tentang senja..

yang kita nanti kehadirannya

yang kita berdua nikmati pesonanya

 

Lagu rindu yang bercerita tentang malam..

lagu rindu menyentuh penuh lirik syahdu

lagu yang memberi ruang bagimu untuk ungkapkan,

“Maukah kau jadi k*k*sihku?”

sambil menyeka keringat di dahiku

seraya membagi senyum ikhlas milikmu itu..

retro-klavier-bedeckt-mit-rose-tapete,1440x900,61975