Kitabisa. Gotong Royong 3.0. Bunga Hatta.


hubungan-warga-negara-dan-pemerintahan-ppt-16-638

Menururt Hatta “tanda-tanda kolektivisme itu tampak pertama kali pada sifat tolong-menolong” seperti terlihat ketika mengerjakan pekerjaan yang berat-berat ang tidak terpikul oleh seseorang. “Orang desa masih menjangkau dirinya sebagai satoe anggota daripada kaum.” Kalau ada orang yang ingin hendak membuat rumah, ia dapat mengharapkan bantuan dan pertolongan orang lain dari desa tersebut.
Demikian juga kalau ia hendak mengerjakan sawahnya, memotong padi, mengantar mayat ke kubur, membuat pengairan, dan banyak lainna. Semua pekerjaan tersebut dilakukan bersama-sama secara gotong royong atas “semangat tolong-menolong.” Dalam masyarakat seperti ini, tidak ada konsep upah-mengupah. Cukuplah kalau usaha dan jerih bersama itu disudahi dengan acara makan bersama, karena yang menjadi prinsip bagi mereka adalah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sedih sama diderita, dan gembira sama dirasa.

 

Sejenak menembus lorong waktu pada gerakan Koin untuk Prita dan gerakan Bantu Banjir Jakarta yang sempat booming beberapa waktu yang lalu. Apa yang sebenarnya kita lakukan? Iya, gotong royong.

Saya jadi teringat speech Bang Ridwansah Yusuf Achmad sewaktu di PPI Belanda mengenai kekuatan cinta. Dan menurut saya, gotong royong pun salah satu dampak sistemik dari sebuah makna cinta yang sebenarnya. ( Hehehe, bisa aja nyambung-nyambungin (: ) Jadi, kalau saya modifikasi speech nya, akan menjadi seperti ini:

Indonesia adalah tentang gotong royong.
Ketika gotong royong itu ada, tidak ada kata lelah, bahkan lelah lelah mengejar kita.
Ketika gotong royong itu ada, tidak ada kata bosan, bahkan bosan bosan mendekati kita.
Ketika memang gotong royong itu ada, tidak pernah ada kata henti, karena kecepatan gotong royong lebih cepat dari cahaya,
Karena gotong royong itulah kecepatan sesungguhnya.

..

Kitabisa

Bangsa ini kenyang perkataan, haus perbuatan.

Kita percaya Indonesia memiliki begitu banyak potensi. Kita juga percaya Indonesia tidak kekurangan orang baik. Sayang, potensi ini tersebar dan kita sibuk dalam keseharian. Karena himpitan rutinitas ruang kontribusi jadi terbatas.

Beragam inisiatif muncul untuk menyelesaikan masalah bangsa. Namun keterbatasan dana dan sumber daya sering menjadi kendala. Alhasil terjebak wacana dan niat tak kunjung jadi nyata. “Kita bisa” tak lebih dari sebuah kata-kata.

Kitabisa.com tercipta untuk menghubungkan keduanya. Anda, orang baik yang memiliki sumber daya. Dengan inisiatif dan karya anak bangsa. Mari bergotong-royong memberi dukungan. Kekuatan datang kala kita turun tangan. Menghubungkan kebaikan.

kitabisa
Karena gotong royong itu, adalah ketika Aku, Kamu, dan Dia sama-sama mengubungkan kebaikan.

Yuk kita gotong royong vote kitabisa.com agar mewakili Indonesia terbang ke Eropa. Cukup luangkan 2 menit dari 24 jam waktumu dengan vote di sini

Terima kasih orang baik (:

.

.

Sumber:

Buku Bung Hatta dan Ekonomi Islam
Speech Ridwansyah Yusuf Achmad, PPI Belanda https://www.youtube.com/watch?v=Pl7zUd1iZPg
http://kitabisa.com/
http://kitabisa.tumblr.com/kita-bisa-about

Advertisements

Merantaulah (Syair Imam Asy-Syafi’i)

ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻘﺎﻡ
ﻟـﺬﻱ ﻋﻘـﻞٍ ﻭﺫﻱ ﺃﺩﺏٍ ﻣﻦ ﺭﺍﺣﺔ
Orang pandai dan beradab,
tak kan diam di kampung halaman

ﻓـﺪﻉ ﺍﻷﻭﻃـﺎﻥ ﻭﺍﻏﺘـﺮﺏ
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

ﺳﺎﻓﺮ
ﺗﺠـﺪ ﻋﻮﺿـﺎً ﻋﻤـﻦ ﺗﻔﺎﺭﻗـﻪ
Pergilah!
kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

ﻭﺍﻧﺼﺐ ﻓﺈﻥ ﻟﺬﻳﺬ ﺍﻟﻌﻴﺶ ﻓﻲ
ﺍﻟﻨﺼـﺐ
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

ﺇﻧﻲ ﺭﺃﻳـﺖ ﻭﻗـﻮﻑ ﺍﻟﻤـﺎﺀ ﻳﻔﺴـﺪﻩ
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan

ﺇﻥ ﺳﺎﺡ ﻃﺎﺏ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺮ ﻟﻢ ﻳﻄـﺐ
Jika mengalir.. menjadi jernih, jika tidak.. dia kan keruh menggenang

ﻭﺍﻷﺳﺪ ﻟﻮﻻ ﻓﺮﺍﻕ ﺍﻷﺭﺽ ﻣﺎ ﺍﻓﺘﺮﺳﺖ
Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang

ﻭﺍﻟﺴﻬﻢ ﻟﻮﻻ ﻓﺮﺍﻕ ﺍﻟﻘﻮﺱ ﻟﻢ ﻳﺼـﺐ
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran

ﻭﺍﻟﺸﻤﺲ ﻟﻮ ﻭﻗﻔﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻠﻚ
ﺩﺍﺋﻤـﻪ ًﻟﻤﻠﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﻋﺠـﻢ ﻭﻣـﻦ ﻋـﺮﺏ
Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

ﻭﺍﻟﺒﺪﺭ ﻟﻮﻻ ﺃﻓﻮﻝ ﻣﻨﻪ
ﻣﺎ ﻧﻈﺮﺕ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺣﻴﻦ ﻋﻴﻦ ﻣﺮﺗﻘﺐ
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman, 0rang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

ﻭﺍﻟﺘﺒﺮ ﻛﺎﻟﺘﺮﺏ ﻣﻠﻘـﻲ
ﻓـﻲ ﺃﻣﺎﻛﻨـﻪ
Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang

ﻓـﺈﻥ ﺗﻐـﺮﺏ ﻫـﺬﺍ ﻋـﺰ ﻣﻄﻠـﺒـﻪ
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai
memperebutkan

ﻭﺍﻟﻌﻮﺩ ﻓﻲ ﺃﺭﺿﻪ ﻧﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄـﺐ
Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa didalam hutan

ﻭﺇﻥ ﺗﻐـﺮﺏ ﺫﻟـﻚ ﻋـﺰ ﻛﺎﻟـﺬﻫـﺐ
Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas
.
.

Sumber:

Guru ngaji paling sabar, Pak Banu Muhammad (Dosen FE UI)

Me(mimpi)n dengan Men(cinta)inya

Ketika semua orang (baik) di negeri ini hanya bisa menjadi “Man in The Mirror”, Can we imagine what is happened inside the mirror? Can you imagine how is the mirror?

C.I.N.T.A.

“Kita bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi kita tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya.”

(Ridwansyah Yusuf, 2007)

Memimpin itu adalah tentang mencintai,

dan ketika CINTA itu ada, tdk ada kata lelah, bahkan lelah lelah mengejar kita..

dan ketika CINTA itu ada, tidak ada kata bosan, bahkan bosan pun bosan mendekati kita..

dan ketika memang CINTA itu ada, tidak pernah ada kata henti, karena kecepatan CINTA lebih cepat dari cahaya, karena CINTA itulah kecepatan sesungguhnya..

.

M.I.M.P.I.

“Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit.” – (Ridwansyah Yusuf, 2013)

.

Jadi, Me(mimpi)n lah dengan  Men(cinta)inya

LOVE = Play Piano

LOVE is like a piano
The white keys represent happiness
The black keys represent sadness
But,
Remember.. that the black keys make the music too

LOVE is like a sand in the hand…
the more you keep it, the more you loose it

So,
LOVE your life..
and Life will LOVE you back

.

.

.

Tulisan ini.. bukan untuk mengajari apalagi menggurui, tetapi sebuah sarana untuk sama-sama BELAJAR khususnya bagi penulis yang memang masih butuh banyak BELAJAR. Learning by writing 🙂

Tulisan ini.. hanya sebuah cuilan kecil keinginan hati penulis untuk menggoreskan warna, seperti merah bertemu jingga. Mengukir cermin, seperti cahaya bertemu prisma.

The Secret of Socrates in Communication

“You can make more friends in two months by becoming interested in other people than you can in two years by trying to get other people interested in you.”

(Dale Carnegie, How to Win Friends and Influence People)

.

Membaca itu menulis dan menulis itu membacakan sesuatu.

Tulisan ini adalah summary dari salah satu bagian yang paling aku favoritkan dalam buku “How to Win Friends and Influence People”, karangan Dale Carnegie. Sebuah teori yang membahas tentang bagaimana Socrates, The Gadfly of Athens, berkomunikasi, make friends, and influence people around him.

.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”

.

Enjoy! (:

.

In talking with people, don’t begin by discussing the things on which you differ. Begin by emphasizing – and keep on emphasizing – the things on which you agree. Keep emphasizing, if possible, that you are both striving for the same end and that your only difference is one of method and not of purpose.

Get the other person saying “Yes, yes” at the outset. Keep your opponent, if possible, from saying “No.” A “No” response, according to Professor Overstreet, (*) is a most difficult handicap to overcome. When you have said “No,” all your pride of personality demands that you remain consistent with yourself. You may later feel that the “No” was ill-advised; nevertheless, there is your precious pride to consider! Once having said a thing, you feel you must stick to it. Hence it is of the very greatest importance that a person be started in the affirmative direction.

[*] Harry A. Overstreet, lnfluencing Humun Behavior (New York: Norton, 1925).

.

The skillful speaker gets, at the outset, a number of “Yes” responses. This sets the psychological process of the listeners moving in the affirmative direction. It is like the movement of a billiard ball. Propel in one direction, and it takes some force to deflect it; far more force to send it back in the opposite direction.

The psychological patterns here are quite clear. When a person says “No” and really means it, he or she is doing far more than saying a word of two letters. The entire organism – glandular, nervous, muscular -gathers itself together into a condition of rejection. There is, usually in minute but sometimes in observable degree, a physical withdrawal or readiness for withdrawal. The whole euromuscular system, in short, sets itself on guard against acceptance. When, to the contrary, a person says “Yes,” none of the withdrawal activities takes place. The organism is in a forward – moving, accepting, open attitude. Hence the more “Yeses” we can, at the very outset, induce, the more likely we are to succeed in capturing the attention for our ultimate proposal.

It is a very simple technique – this yes response. And yet, how much it is neglected! It often seems as if people get a sense of their own importance by antagonizing others at the outset.

Get a student to say “No” at the beginning, or a customer, child, husband, or wife, and it takes the wisdom and the patience of angels to transform that bristling negative into an affirmative.

Socrates, “the gadfly of Athens,” was one of the greatest philosophers the world has ever known. He did something that only a handful of men in all history have been able to do: he sharply changed the whole course of human thought; and now, twenty-four centuries after his death, he is honored as one of the wisest persuaders who ever influenced this wrangling world.

His method? Did he tell people they were wrong? Oh, no, not Socrates. He was far too adroit for that. His whole technique, now called the “Socratic method,” was based upon getting a “yes, yes” response. He asked questions with which his opponent would have to agree. He kept on winning one admission after another until he had an armful of yeses. He kept on asking questions until finally, almost without realizing it, his opponents found themselves embracing a conclusion they would have bitterly denied a few minutes previously.

The next time we are tempted to tell someone he or she is wrong, let’s remember old Socrates and ask a gentle question – a question that will get the “yes, yes” response.

.

“You can make more friends in two months by becoming interested in other people than you can in two years by trying to get other people interested in you.”

(Dale Carnegie, How to Win Friends and Influence People)

Public Speaking Theory in Al Quran (Q.S. Ar-Rahman)

  

(1) alrrahmaan(2) ‘allama alqur-aana (3) khalaqa al-insaana 

…………………………………………………………………………………….

Malam itu, entah kenapa kaki ini tiba-tiba serentak berteriak sangat kompak..

Kaki Broo: “Mas Broo! Malam ini ayo kita traveling !!!”

Mas Broo: “Woy Broo! Tarawih coy. Lo maunya traveling mulu. Nanti dimarahin Bro sama Mama!”

Kaki Broo: “Kita tetap pergi Tarawih malam ini Broo! Kalau kata Riani (5 cm), yang kita perlukan hanyalah kaki yang akan melangkah lebih jauh dari biasanya. Ayo kita Tarawih di Masjid UI !!!”

Mas Broo: (angin tiba-tiba berhembus membelai rambut si Mas Broo layaknya model iklan shampoo)

Kaki Broo: “Zzz -_- .. Aduh, mulai kerasukan setan lebay ni anak.”

.

Astaghfirullah. Hei! pergilah kalian wahai setan – setan lebay dari sepuluh jemari tanganku ini! Husshhh ! Pergi sana!

Ehm2.. Oke, back to laptop!

Ternyata, selalu ada sebuah alasan mengapa Tuhan mengarahkan kaki ini melangkah ke Masjid UI. Surat Ar Rahman yang di senandungkan dengan sangat sangat indah oleh sang Imam Masjid UI saat Shalat Tarawih berhasil membuat hampir seluruh makmum meneteskan air mata ikhlas. Sebuah rantai ikatan kimia H2O tiba-tiba dengan ikhlas menyapa kornea, lalu jatuh ke retina.

FABIAYYI ALAA ‘IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN

“Then which of the favours of your Lord will you deny?”

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

  • diulang sebanyak 31 kali
  • di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia

.

Di bagian ini, kita sedikit menoleh ke sejarah Amerika. Pernah dengar speech ini?

Let us not wallow in the valley of despair. I say to you today, my friends, that in spite of the difficulties and frustrations of the moment, I still have a dream. It is a dream deeply rooted in the American dream. I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: “We hold these truths to be self-evident: that all men are created equal.” I have a dream that one day on the red hills of Georgia the sons of former slaves and the sons of former slave owners will be able to sit down together at a table of brotherhood. I have a dream that one day even the state of Mississippi, a state, sweltering with the heat of injustice, sweltering with the heat of oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character. I have a dream today.

— Dr. Martin Luther King Jr.

In August 1963, Dr. Martin Luther King Jr. led the great march on Washington, where he delivered this memorable speech in front of 250,000 people gathered by the Lincoln Memorial and millions more who watched on television. Dr. Martin Luther King Jr. menggunakan teori Anaphora dalam men-deliver speech-nya ke ribuan rakyat Amerika saat itu.

Anaphora is a rhetorical term for the repetition of a word or phrase at the beginning of successive clauses. By building toward a climax, anaphora can create a strong emotional effect.

Kalimat “I have a dream” diulang beberapa kali dalam speech ini .Speech ini menjadi sangat legendaris. Speech ini sering dijadikan raw model bagi para public speakers ketika menyusun sebuah naskah pidato atau bahkan ketika menyampaikan pidato di depan publik. Penggunaan teori Anaphora dalam men-deliver sebuah speech pun menjadi sangat popular sejak saat itu.

.

Akan tetapi…

Ratusan tahun yang lalu, jauh sebelum Dr. Martin Luther King Jr. menggunakan teori Anaphora dalam speech nya yang terkenal sangat legendaris itu, Ar-Rahman, ALLAH SWT, telah terlebih dulu menggunakannya di dalam Al Quran:

FABIAYYI ALAA ‘IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN

“Then which of the favours of your Lord will you deny?”

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

  • diulang sebanyak 31 kali
  • di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia

.

Jadi, siapa yang seharusnya kita jadikan raw model ?

Jadi, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Subhanallah..

(:

.

Oh iya, “mungkin” itulah salah satu dari ribuan alasan mengapa ALLAH dalam Surat Ar-Rahman menyusun ayat yang berbunyi ‘allama alqur-aana sebelum ayat khalaqa al-insaana. 

  

(1) alrrahmaan(2) ‘allama alqur-aana (3) khalaqa al-insaana 

.

Dan KAU hadir,

merubah segalanya,

menjadi lebih INDAH..

.

Subhanallah. ALHAMDULILLAH..

(:

.

.

Tulisan ini.. bukan untuk mengajari apalagi menggurui, tetapi sebuah sarana untuk sama-sama BELAJAR khususnya bagi penulis yang memang masih butuh banyak BELAJAR. Learning by writing 🙂

Tulisan ini.. hanya sebuah cuilan kecil keinginan hati penulis untuk menggoreskan warna, seperti merah bertemu jingga. Mengukir cermin, seperti cahaya bertemu prisma.

.

.

Inspired by:

  • Imam Tarawih Masjid UI, Ramadhan 1433 H, 2012 M
  • Khotbah by Nouman Ali Khan in Masjid Wilayah Persekutuan, Kuala Lumpur, Malaysia on Sep 5th, 2013

http://www.alquran-indonesia.com/web/quran/listings/details/55

http://grammar.about.com/od/ab/g/anaphora.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Anaphora_(rhetoric)

Traveller is also Kreanovator?

 “The world is a book.. and those who do not travel read only one page of the book” – St. Augustine

Migrasi jarak jauh merupakan ciri khas dari kupu-kupu Monarch. Setiap musim semi, ribuan kupu-kupu bersayap lebar ini terbang ke Barat menuju California dan Mexico. Sedangkan pada musim panas, kupu-kupu Monarch berekspedisi sejauh 4828 kilometer melalui AS dan Kanada. Hingga kini, kekompakan kupu-kupu Monarch dalam bermigrasi masih menjadi misteri bagi para ilmuwan.

Menurut cerita, migrasi kupu-kupu Monarch inilah yang menciptakan “The Butterfly Effect Theory”, kepakan seribu sayap kupu-kupu di belantara Brazil yang dapat menciptakan Tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Keren bukan? Bayangkan ketika hal itu terjadi pada seluruh Garuda yang tersebar di seluruh penjuru dunia, “The Garuda Effect Theory”, the flap of a Garuda’s wings from Indonesia set off a huge tornado around the world. How about you? Wanna join this flap to make a huge tornado? Intinya adalah creating and connecting by travelling. It’s a Kreanovator.

Still remember about Captain Tsubasa? Penulis sangat mengidolakan figur ini. Namanya juga generasi 90-an Bro (: Oke, kembali ke laptop! Apa yang istimewa dari figur ini? Just like what Monarch Butterfly did, he also do migration. He is travelling from Japan to Brazil and finally in Europe. Bertemu dengan banyak pemain bola yang jauh lebih hebat darinya, lalu menganalisis teknik lawan dalam bermain bola, kemudian berlatih keras mempelajari teknik mereka, dan memodifikasinya. Menjadikan teknik milik lawan menjadi teknik miliknya, but with his own style. Intinya adalah learning by travelling. It’s a Kreanovator.

Meet more people, sharing and brainstorming experience with them, and then follow their positives and strengths that they have with our own style and manner. Meet and interact with people and new environments, gain knowledge, share experiences, add relationships, and reap a million inspiration from them. It’s a Kreanovator.

In my opinion, traveller is also a kreanovator. Why?

Because when we are travelling,

we change every weakness into a strength and every threat into an opportunity.

Because when we are travelling,

we take risks, explore new ideas, connect people, theory, and practice.

Because when we are travelling,

we got everything. Everything that has its own Beauty and something that we can Learn from its Beauty.

Because when we are travelling,

more people we will know, we will see, we will meet, and more things we will try to do. And It means, more experience we will get. Because every person is a book. We can read and see change in every person.

 

Alphabet start from A B C…

Number start from 1 2 3…

LOVE start from You and Me…

Become a great Kreanovator start from? *berkecamuklah dalam relung hati teman-teman yang paling dalam (:

 

Kreanovator itu, layaknya travelling.. we learning, creating, and connecting.

Kreanovator itu, layaknya kumpulan awan yang sedang belajar, sambil mencari tempat untuk turunkan hujannya.

Kreanovator itu, layaknya menggoreskan warna, seperti merah bertemu jingga. Mengukir cermin, seperti cahaya bertemu prisma. Iya, karena dalam setiap hal yang ditemuinya, mengalir berjuta cahaya. Karena dalam setiap jejak langkahnya, membuka lebar jendela dunia.

..

Bukan titik yang membuat tinta

Tapi tinta yang membuat titik

Bukan cantik yang membuat cinta

Tapi cinta yang membuatnya cantik

Iya, begitulah…

Rasa cinta kami inilah yang kelak akan membuatnya tampak sangat cantik

.

.

Dengan segala kerendahan hati, penulis mohon maaf jika untaian kata, alunan nada, dan rangkain aksara dalam tulisan ini bilingual dua bahasa. Namanya juga generasi 90-an, generasi pembelajar. Belajar mengaplikasikan Sumpah Pemuda poin ke-3 di tengah globalization effect from ACFTA. Belajar mengaplikasikan The Garuda Effect Theory menuju Indonesia yang absolutely awesome di tahun 2030.

Oh iya, akan tetapi, ketika kita sudah comfort travelling around the world, jangan sampai jadikan Indonesia hanya sebagai “Tempat berlindung di hari tua. Tempat akhir menutup mata.” karena sesungguhnya “Di sana lah tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda.” Benar bukan? (:

Ucapkan saja kalimat ini dalam hati ketika kita sedang travelling:

“Bersabarlah Ibu pertiwi.. kelak, kami akan datang, menyeka keringat dan menghapus air matamu..”

.

.

Inspired by teman-teman Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) from around the world in 2nd Congress of Indonesian Diaspora

Image by Google

Quote cited from Moch. Thanthowy Syamsuddin

Poem cited from Wahyu Purnamayoga

Genta – 5 cm

Kalau mau tanya film, tanya sama Genta; soal pemasaran, tanya sama Genta; mau tanya tentang musik, tanya sama Genta

Kalau Riani ditanya paling enak nonton sama siapa? Pasti jawabnyasama Genta…

Kalau Arial ditanya, siapa yang paling enak diajak lari pagi dan main basket di Senayan? Pasti jawabnya sama Genta…

Kalau Zafran ditanya siapa yang paling enak diajak bikin puisi atau bikin lagi bareng? Pasti dibilang paling enak sama Genta…

Kalau Ian ditanya siapa yang paling enak diajak ke Glodok bareng atau main bola di PS2? Sama saja, jawabnya pasti sama Genta…

Kalau mau curhat? Keempat temannya setuju paling enak curhat sama Genta…

 

Genta, juga yang paling sering maju paling depan dan pasang badan kalo ada yang berantakan…

Genta, paling suka berfilosofi sendirian, suka ngutip kata-kata bagus, suka bagus-bagusan puisi sama Zafran, dan suka ngobrol lama-lama sama Riani…

 

Genta, itu segalanya yang dibutuhkan sebagai seorang teman…

Genta, bisa dibilang adalah orang yang mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri

Genta, “The Leader”

.

.

Itulah bagian favoritku ketika membaca buku 5 cm yang legendaris itu…

Mengapa Genta bisa menjadi sosok seperti itu?

Iya, “mungkin” kita punya sebuah konsep yang sama dalam memandang sebuah kehidupan,

More people we Know, we See, we Meet, more things we Try to Do…more Experience we will Get

Aku memang belum bisa seperti Genta, tapi bukan berarti tidak bisa (:

karena aku…PEMBELAJAR, dan mau BANYAK BELAJAR

Jembatan Abdi Negara

ditulis oleh: Aichiro Suryo Prabowo, Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia

 

“Everybody wants to save the earth; nobody wants to help Mom do the dishes.” Pertama kali baca kutipan O’Rourke tersebut, saya geli sekaligus khawatir sendiri. Geli karena tergelitik membayangkan para anak yang malas mencuci piring di rumah. Khawatir karena tersadarkan, kalau benar yang demikian memang terjadi dimana-mana, menyelamatkan dunia bisa jadi tinggal wacana.

Mahasiswa Indonesia kerap punya cita-cita yang begitu besarnya, membenahi negara atau mengubah dunia. Namun sayang, masih banyak yang lebih memilih untuk memulainya nanti saja setelah lulus dan mapan ketimbang ”mencicilnya” dari sekarang, dari hal-hal yang kecil. ”Great things are not done by impulse, but by a series of small things brought together,” begitu kata Van Gogh. Artinya, tidak perlu sebenarnya menunggu besar dulu baru membawa perubahan. Saat ini pun semua bisa dimulai walau sedikit demi sedikit.

Pengabdian Sebagai Jalan
Di kampus saya, Fakultas Ekonomi, beberapa teman gemar melakukan diskusi terkait isu ekonomi terkini, mulai dari masalah transparansi kampus, subsidi BBM, denominasi rupiah, hingga struktur APBN. Hasil kajian tersebut kemudian dipublikasikan via blog atau mading fakultas. Setelah membacanya, orang lain yang tadinya tidak tahu jadi lebih paham duduk permasalahan yang ada.

Menurut saya, begitu seharusnya mahasiswa mewujudkan pengabdiannya, relevan dengan ilmu yang dimiliki, mudah dilakukan, dan berdampak positif bagi lingkungan sekitar. Mahasiswa teknik mungkin membangun kincir angin sederhana sebagai pembangkit listrik di sebuah desa, mahasiswa psikologi bisa jadi menyelenggarakan pendidikan anak usia dini, apapun itu yang penting ambil bagian! Bagi yang punya daya lebih, tentu gerakan lebih besar tidak mustahil diwujudkan, seperti advokasi kebijakan publik, kuliah kerja nyata, atau desa binaan sebagaimana telah berjalan di beberapa kampus di nusantara.

Pengabdian masyarakat adalah jembatan antara idealisme di dalam dengan realisme di luar kelas, sekaligus merupakan jalan untuk mahasiswa menebarkan manfaatnya. Maka, tak seharusnya hal ini cuma jadi sekadar pelengkap. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi pun dijelaskan bagaimana pilar pengabdian masyarakat berdiri sama tinggi dengan dua pilar lainnya, yaitu pendidikan dan penelitian. Tidak boleh ada yang dinomorduakan. Ibarat bangunan, pilar-pilarnya harus sama kuat agar tidak berisiko ambruk. Pula sebaliknya, kerja sosial juga jangan sampai mengorbankan belajar. Pengabdian masyarakat, saya percaya, adalah jalan bagi mahasiswa untuk mewujudkan cita-citanya membenahi negara dan mengubah dunia. Let’s think big, start small, act now!

Bersaing vs Bekerja Sama
Di Indonesia, kesempatan untuk menjadi mahasiswa merupakan sebuah kemewahan. Tidak semua orang bisa mendapatkannya, sehingga wajib bagi mereka yang telah sukses memperoleh kesempatan ini untuk “membayarnya” kembali. Caranya, dengan memberikan manfaat yang lebih banyak lagi bagi masyarakat.

Saya ingat empat tahun lalu, saat itu saya masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Memang benar, perjuangan meraih kursi perguruan tinggi yang begitu berat menjadikan buah keberhasilannya pantas disebut sebagai barang mewah. Bagaimana tidak, setiap siswa harus bersaing dengan semua lulusan SMA se-Indonesia demi satu bangku kuliah. Alhamdulillah, cerita berakhir manis, saya diterima di kampus idaman.

Waktu berlalu cepat, tanpa terasa hari ini saya telah sampai di penghujung masa-masa kuliah. Bulan depan angkatan saya akan wisuda, untuk selanjutnya memasuki dunia kerja. Artinya, kompetisi akan digelar kembali. Lebih mendebarkan, mengingat kali ini persaingannya tidak hanya dengan lulusan dalam negeri tetapi juga melawan lulusan luar negeri.

Di satu sisi, saya waspada, namun di sisi lain, saya melihat budaya kompetisi ini sebagai sesuatu yang berlebihan. Sejak lulus SD, SMP, SMA, hingga kuliah, pemuda Indonesia didoktrin untuk selalu siap bersaing. Lulus SMA, siswa dipersiapkan untuk siap berkompetisi dengan lulusan SMA yang lain. Lulus kuliah, mahasiswa dipersiapkan untuk siap melawan sarjana lainnya. Siap bersaing saja tidak cukup. Menurut saya, dibutuhkan juga kesiapan untuk bekerja sama.

Kesiapan untuk bekerja sama ini harus ditanamkan sejak kecil. Sesederhana mengatakan, “Lulus SMA, kamu akan bekerja sama dengan lulusan-lulusan SMA lain di Indonesia,” atau, “Lulus kuliah, kamu akan bekerja sama dengan para sarjana dari penjuru dunia yang lain.” Spirit bekerja sama yang demikian akan memberikan kebesaran hati sekaligus kesiapan mental untuk menghasilkan karya yang lebih besar. Peradaban sudah berubah, manusia tidak ingin selamanya “berperang,” kan?

Mengabdi Bersama-sama
Pengabdian masyarakat dan bekerja sama, keduanya penting. Pengabdian masyarakat adalah jalan untuk menebar manfaat. Tanpanya, mahasiswa tidak akan dapat mengubah apa-apa. Bekerja sama adalah jalan untuk menjadi lebih kuat. Tanpanya, mahasiswa hanya akan terbatas pada karya-karya yang tersegmentasi saja. Kesadaran akan kedua hal tersebut, semangat pengabdian masyarakat dan spirit bekerja sama, lah yang akan menjadikan mahasiswa Indonesia siap berkiprah baik secara lokal maupun global.

Bagaimana dengan disiplin ilmu? Menurut saya, apapun bidangnya dan darimanapun asal fakultasnya tidak jadi soal. Tidak benar dokter lebih mulia ketimbang arsitek. Tidak betul ekonom lebih baik daripada sastrawan. Semuanya penting bagi kehidupan. Bak jangka sorong, setepat apapun akurasinya, tetap tidak tepat jika dimanfaatkan untuk mengukur jalan raya. Semua punya tempatnya masing-masing. Maka sekali lagi, kolaborasi dalam mengabdi merupakan langkah paling efektif yang harus ditempuh. Banyak orang ingin membangun menara, namun tidak banyak yang berinisiatif untuk membangun jembatan antarmenara-menara itu. Jika prestasi gemilang adalah menaranya, maka mengabdi bersama-sama adalah jembatannya.

Mahasiswa Indonesia tidak boleh berhenti bercita-cita membenahi negara dan mengubah dunia, dan mewujudkannya bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana, saat ini juga! Saya percaya, dengan mengubah sebagian kecil dari dunia, seorang mahasiswa sejatinya telah mengubah dunia seutuhnya. Selamat berkarya sebagai abdi negara, selamat berkiprah sebagai warga dunia!